Perjuangan
Mendapatkan Beasiswa LPDP by : Vitriyanti
LPDP, salah satu beasiswa di Indonesia yang konon dikatakan
cukup bonafit. Beasiswa tersebut tidak hanya memberikan dana untuk biaya
pendidikan namun juga mencakup tunjangan hidup, tunjangan keluarga bagi mereka
yang sudah berkeluarga, dan tunjangan kesehatan. Selain itu, dalam segi
pembiayaan dibandingkan dengan beasiswa yang lain, LPDP termasuk salah satu
beasiswa yang cukup lancar dalam pemberian biaya.
Kurang lebih dua tahun yang lalu, salah seorang teman
memperkenalkan beasiswa tersebut kepada saya. Jelas, mendengar hal tersebut
seperti mendapatkan sebuah solusi untuk masalah pembiayaan kuliah Magister yang
sudah lama saya khawatirkan. Namun sayangnya saya sempat menyia-nyiakan waktu,
usaha yang dilakukan hanya sampai sebatas membuka website LPDP. Melihat
beberapa persyaratan utamanya 3 essai yang harus dipenuhi membuat perjuangan
saya berhenti. Selain essai, hal lainnya yang masih mengganjal adalah syarat
nilai bahasa Inggris.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tanpa sadar saya sudah
menghabiskan waktu lebih dari 1,5 tahun dan belum memiliki progress apapun
terkait persyaratan LPDP baik essai maupun skor kemampuan berbahasa Inggris.
Sampai suatu ketika, tepatnya empat bulan yang lalu saya bertemu dengan sebuah
komunitas belajar IELTS. Melalui komunitas tersebut saya dipertemukan dengan
seorang awardee LPDP yang memiliki energi positif dan menularkan semangat dan
ilmunya kepada kami teman komunitasnya. Melihat kegigihannya berjuang sebagai
shoolarship hunter, saya mulai tergerak dan seolah menemukan roda penggerak
yang membangunkan saya dari tidur panjang.
Tidak lama dari pertemuan itu saya mulai berbenah diri. Pertama
hal yang saya lakukan adalah mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris.
Beruntung saya memiliki support grup yang luar biasa dalam belajar Bahasa
Inggris. Meski tujuan utamanya adalah belajar IELTS, namun volunteer guru dalam
komunitas tersebut tidak pernah segan-segan membagikan ilmunya dan membantu
belajar grammar pada umumnya yang sering keluar dalam tes ITP. Mulanya saya
hanya memiliki skor ITP di bawah 500, sebulan kemudian saya kembali
memberanikan diri tes dan bersyukur saya mendapatkan skor di atas 500. Modal
pertama untuk mendaftar beasiswa dalam negri (DN) sudah ditangan.
Selain mempersiapkan diri untuk mengambil tes bahasa Inggris,
berkat dorongan semangat dari teman awardee kami (saya dan beberapa teman dalam
komunitas belajar IELTS) mulai membuat tiga essai yang diminta. Meski semuanya
adalah essai mengenai diri kita, namun membuat essai tersebut tidaklah mudah.
“Untuk bisa menarik perhatian penilai, kita harus benar-bernar mampu menjual
diri secara elegan”. Kalimat tersebut selalu diingatkan oleh teman awardee
kami. Sekali lagi saya merasa sangat beruntung karena memiliki support grup
yang luar biasa. Selesai mengerjakan essai, dan untuk memastikan essai
benar-benar bisa dipahami, saya kemudian mengiirmkan essai tersebut ke beberapa
orang. Tiga orang awardee LPDP dan dua orang lainnya non awardee. Hasil masukan
dari kelima pembaca tersebut selanjutnya saya jaidkan bahan untuk memperbaiki
essai. Sudah tentu feedback yang diberikan kelima pembaca tersebut sangat
beragam, namun kembali lagi essai itu adalah tulisan saya dan hasil kahir tetap
kita yang menentukan.
Selesai dengan urusan essai, selanjutnya tinggal memikirkan
untuk mengurus persyaratan liannya seperti SKCK, surat keterangan sehat, surat
rekomendasi dan surat ijin atasan bagi yang sudah bekerja. Bersyukur, semua
pengurusan persayaratan yang tersisa tergolong cukup mudah. Karena kebetulan
saya bekerja di Kepolisian, untuk pembuatan SKCK tidak begitu rumit. Begitupun
untuk pengurusan surat keterangn sehat dan bebas TBC, karena kebetulan saya
bekerja di Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya saya bisa
mengajukan surat tersebut langung si kantor tempat saya bekerja tanpa harus
mengantri panjang di Rumah Sakit. Terakhir adalah surat rekomendasi atasan dan
surat ijin atasan. Melihat semangat saya yang masih menggebu, atasan saya
langsung sangat mendukung saya untuk melanjutkan kuliah. Dan ketika beliau tahu
saya ingin mencoba mengikuti seleksi LPDP beliau dengan senang hati memberikan
surat rekomendasi dan surat ijin untuk mengikuti seluruh kegiatan yang
diperlukan selama mendaftar.
“The happiness of
sharing” sebuah kutipan indah dari seseorang yang sudah sangat menginspirasi
saya. Semoga kedepannya saya dapat terus ikut berbagi dan memperoleh
kebahagiaan darinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar