Jumat, 17 Juni 2016

My first schoolarship, LPDP

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa LPDP by : Vitriyanti

LPDP, salah satu beasiswa di Indonesia yang konon dikatakan cukup bonafit. Beasiswa tersebut tidak hanya memberikan dana untuk biaya pendidikan namun juga mencakup tunjangan hidup, tunjangan keluarga bagi mereka yang sudah berkeluarga, dan tunjangan kesehatan. Selain itu, dalam segi pembiayaan dibandingkan dengan beasiswa yang lain, LPDP termasuk salah satu beasiswa yang cukup lancar dalam pemberian biaya.
Kurang lebih dua tahun yang lalu, salah seorang teman memperkenalkan beasiswa tersebut kepada saya. Jelas, mendengar hal tersebut seperti mendapatkan sebuah solusi untuk masalah pembiayaan kuliah Magister yang sudah lama saya khawatirkan. Namun sayangnya saya sempat menyia-nyiakan waktu, usaha yang dilakukan hanya sampai sebatas membuka website LPDP. Melihat beberapa persyaratan utamanya 3 essai yang harus dipenuhi membuat perjuangan saya berhenti. Selain essai, hal lainnya yang masih mengganjal adalah syarat nilai bahasa Inggris.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu lebih dari 1,5 tahun dan belum memiliki progress apapun terkait persyaratan LPDP baik essai maupun skor kemampuan berbahasa Inggris. Sampai suatu ketika, tepatnya empat bulan yang lalu saya bertemu dengan sebuah komunitas belajar IELTS. Melalui komunitas tersebut saya dipertemukan dengan seorang awardee LPDP yang memiliki energi positif dan menularkan semangat dan ilmunya kepada kami teman komunitasnya. Melihat kegigihannya berjuang sebagai shoolarship hunter, saya mulai tergerak dan seolah menemukan roda penggerak yang membangunkan saya dari tidur panjang.
Tidak lama dari pertemuan itu saya mulai berbenah diri. Pertama hal yang saya lakukan adalah mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris. Beruntung saya memiliki support grup yang luar biasa dalam belajar Bahasa Inggris. Meski tujuan utamanya adalah belajar IELTS, namun volunteer guru dalam komunitas tersebut tidak pernah segan-segan membagikan ilmunya dan membantu belajar grammar pada umumnya yang sering keluar dalam tes ITP. Mulanya saya hanya memiliki skor ITP di bawah 500, sebulan kemudian saya kembali memberanikan diri tes dan bersyukur saya mendapatkan skor di atas 500. Modal pertama untuk mendaftar beasiswa dalam negri (DN) sudah ditangan.
Selain mempersiapkan diri untuk mengambil tes bahasa Inggris, berkat dorongan semangat dari teman awardee kami (saya dan beberapa teman dalam komunitas belajar IELTS) mulai membuat tiga essai yang diminta. Meski semuanya adalah essai mengenai diri kita, namun membuat essai tersebut tidaklah mudah. “Untuk bisa menarik perhatian penilai, kita harus benar-bernar mampu menjual diri secara elegan”. Kalimat tersebut selalu diingatkan oleh teman awardee kami. Sekali lagi saya merasa sangat beruntung karena memiliki support grup yang luar biasa. Selesai mengerjakan essai, dan untuk memastikan essai benar-benar bisa dipahami, saya kemudian mengiirmkan essai tersebut ke beberapa orang. Tiga orang awardee LPDP dan dua orang lainnya non awardee. Hasil masukan dari kelima pembaca tersebut selanjutnya saya jaidkan bahan untuk memperbaiki essai. Sudah tentu feedback yang diberikan kelima pembaca tersebut sangat beragam, namun kembali lagi essai itu adalah tulisan saya dan hasil kahir tetap kita yang menentukan.
Selesai dengan urusan essai, selanjutnya tinggal memikirkan untuk mengurus persyaratan liannya seperti SKCK, surat keterangan sehat, surat rekomendasi dan surat ijin atasan bagi yang sudah bekerja. Bersyukur, semua pengurusan persayaratan yang tersisa tergolong cukup mudah. Karena kebetulan saya bekerja di Kepolisian, untuk pembuatan SKCK tidak begitu rumit. Begitupun untuk pengurusan surat keterangn sehat dan bebas TBC, karena kebetulan saya bekerja di Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya saya bisa mengajukan surat tersebut langung si kantor tempat saya bekerja tanpa harus mengantri panjang di Rumah Sakit. Terakhir adalah surat rekomendasi atasan dan surat ijin atasan. Melihat semangat saya yang masih menggebu, atasan saya langsung sangat mendukung saya untuk melanjutkan kuliah. Dan ketika beliau tahu saya ingin mencoba mengikuti seleksi LPDP beliau dengan senang hati memberikan surat rekomendasi dan surat ijin untuk mengikuti seluruh kegiatan yang diperlukan selama mendaftar.
“The happiness of sharing” sebuah kutipan indah dari seseorang yang sudah sangat menginspirasi saya. Semoga kedepannya saya dapat terus ikut  berbagi dan memperoleh kebahagiaan darinya.



vitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar