Selasa, 31 Mei 2022

BREAK THE LIMITS

Hi sobat Blogger, berhubung aku masih belum tahu gimana caranya upload ebook ke website, jadi ebook Break the Limits aku taruh di sini ya. Happy reading 😃


ebook Break the Limits

Jumat, 17 Juni 2016

My first schoolarship, LPDP

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa LPDP by : Vitriyanti

LPDP, salah satu beasiswa di Indonesia yang konon dikatakan cukup bonafit. Beasiswa tersebut tidak hanya memberikan dana untuk biaya pendidikan namun juga mencakup tunjangan hidup, tunjangan keluarga bagi mereka yang sudah berkeluarga, dan tunjangan kesehatan. Selain itu, dalam segi pembiayaan dibandingkan dengan beasiswa yang lain, LPDP termasuk salah satu beasiswa yang cukup lancar dalam pemberian biaya.
Kurang lebih dua tahun yang lalu, salah seorang teman memperkenalkan beasiswa tersebut kepada saya. Jelas, mendengar hal tersebut seperti mendapatkan sebuah solusi untuk masalah pembiayaan kuliah Magister yang sudah lama saya khawatirkan. Namun sayangnya saya sempat menyia-nyiakan waktu, usaha yang dilakukan hanya sampai sebatas membuka website LPDP. Melihat beberapa persyaratan utamanya 3 essai yang harus dipenuhi membuat perjuangan saya berhenti. Selain essai, hal lainnya yang masih mengganjal adalah syarat nilai bahasa Inggris.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tanpa sadar saya sudah menghabiskan waktu lebih dari 1,5 tahun dan belum memiliki progress apapun terkait persyaratan LPDP baik essai maupun skor kemampuan berbahasa Inggris. Sampai suatu ketika, tepatnya empat bulan yang lalu saya bertemu dengan sebuah komunitas belajar IELTS. Melalui komunitas tersebut saya dipertemukan dengan seorang awardee LPDP yang memiliki energi positif dan menularkan semangat dan ilmunya kepada kami teman komunitasnya. Melihat kegigihannya berjuang sebagai shoolarship hunter, saya mulai tergerak dan seolah menemukan roda penggerak yang membangunkan saya dari tidur panjang.
Tidak lama dari pertemuan itu saya mulai berbenah diri. Pertama hal yang saya lakukan adalah mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris. Beruntung saya memiliki support grup yang luar biasa dalam belajar Bahasa Inggris. Meski tujuan utamanya adalah belajar IELTS, namun volunteer guru dalam komunitas tersebut tidak pernah segan-segan membagikan ilmunya dan membantu belajar grammar pada umumnya yang sering keluar dalam tes ITP. Mulanya saya hanya memiliki skor ITP di bawah 500, sebulan kemudian saya kembali memberanikan diri tes dan bersyukur saya mendapatkan skor di atas 500. Modal pertama untuk mendaftar beasiswa dalam negri (DN) sudah ditangan.
Selain mempersiapkan diri untuk mengambil tes bahasa Inggris, berkat dorongan semangat dari teman awardee kami (saya dan beberapa teman dalam komunitas belajar IELTS) mulai membuat tiga essai yang diminta. Meski semuanya adalah essai mengenai diri kita, namun membuat essai tersebut tidaklah mudah. “Untuk bisa menarik perhatian penilai, kita harus benar-bernar mampu menjual diri secara elegan”. Kalimat tersebut selalu diingatkan oleh teman awardee kami. Sekali lagi saya merasa sangat beruntung karena memiliki support grup yang luar biasa. Selesai mengerjakan essai, dan untuk memastikan essai benar-benar bisa dipahami, saya kemudian mengiirmkan essai tersebut ke beberapa orang. Tiga orang awardee LPDP dan dua orang lainnya non awardee. Hasil masukan dari kelima pembaca tersebut selanjutnya saya jaidkan bahan untuk memperbaiki essai. Sudah tentu feedback yang diberikan kelima pembaca tersebut sangat beragam, namun kembali lagi essai itu adalah tulisan saya dan hasil kahir tetap kita yang menentukan.
Selesai dengan urusan essai, selanjutnya tinggal memikirkan untuk mengurus persyaratan liannya seperti SKCK, surat keterangan sehat, surat rekomendasi dan surat ijin atasan bagi yang sudah bekerja. Bersyukur, semua pengurusan persayaratan yang tersisa tergolong cukup mudah. Karena kebetulan saya bekerja di Kepolisian, untuk pembuatan SKCK tidak begitu rumit. Begitupun untuk pengurusan surat keterangn sehat dan bebas TBC, karena kebetulan saya bekerja di Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya saya bisa mengajukan surat tersebut langung si kantor tempat saya bekerja tanpa harus mengantri panjang di Rumah Sakit. Terakhir adalah surat rekomendasi atasan dan surat ijin atasan. Melihat semangat saya yang masih menggebu, atasan saya langsung sangat mendukung saya untuk melanjutkan kuliah. Dan ketika beliau tahu saya ingin mencoba mengikuti seleksi LPDP beliau dengan senang hati memberikan surat rekomendasi dan surat ijin untuk mengikuti seluruh kegiatan yang diperlukan selama mendaftar.
“The happiness of sharing” sebuah kutipan indah dari seseorang yang sudah sangat menginspirasi saya. Semoga kedepannya saya dapat terus ikut  berbagi dan memperoleh kebahagiaan darinya.



vitri

About Abhinaya Gantari

Here we go...

Our greeting video from Abhinaya Gantari group. Candidate awardee LPDP batch 1 2016.

Let's have take a look :)

FC3https://youtu.be/FC3WCDeQboU

Happy watching and enjoy that ^_^

Rabu, 18 Mei 2016

My first backpack

 

Single Backpacker? Why not?



Mendengar kata single backpacker kedengarannya menyeramkan, namun ternyata hal tersebut malah justru sangat menyenangkan. Mau tau bagaimana serunya? Berikut adalah sekelumit cerita pengalaman pribadi saya menjadi single backpacker. Le't's take a look ^_^.

Tidak dipungkiri, awalnya rasa gelisah itu muncul. Pertanyaan berikut juga terus menghantui pikiran:  "single backpacker? apa iya akan baik-baik saja?". Kekhawatiran tersebut terus berlangsung dan berhasil membuat saya insomnia. 
Berawal dari rencana mendadak liburan bersama teman ke negara Malaysia, akhirnya berubah menjadi sebuah perjalanan single backpacker. Satu jam sebelum pembelian tiket pesawat which is itu adalah sehari sebelum rencana keberangkatan teman membatalkan rencananya karena alasan keluarga. Nekad, saya memutuskan untuk tetap pergi seorang diri. Dengan berbekal mencari tahu pengalaman orang lain melalui blog dan ketidakseganan bertanya baik pada orang lokal maupun turis yang ditemui sepanjang perjalanan, liburan pun berakhir dengan kesan yang luar biasa.


Karena ini adalah pengalaman pertama saya bepergian ke luar negri, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai nasib jaringan komunikasi yang akan terjadi pada nomor Indonesia akhirnya saya berinisiatif untuk membawa buku saku yang berisi seluruh destinasi yang ingin saya kunjungi lengkap dengan bagaimana cara menuju ke sana. Dan benar saja, selama di sana saya tidak bisa menggunakan alat komunikasi maupun data seluler. Fasilitas wifi yang disedikan di hotel pun jauh dari harapan.


Perjalanan dimulai dari Jakarta pukul 11.30 WIB dan tiba di KLIA sekitar pukul 14.30 waktu Malaysia. Selanjutnya saya melanjutkan perjalanan ke Tune Hotel Down Town KL. Meskipun sudah berusaha mencaritahu transportasi apa yang harus digunakan untuk menuju ke sana, namun sampai saya tiba di KLIA saya masih belum menemukan gambaran pastinya. Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya pada beberapa petugas dan mereka menyarankan saya untuk menggunakan transportasi Bus. Sebagai orang yang sama sekali buta tentang Malaysia, saya merasa beruntung menggunakan moda transportasi tersebut meski tidak secepat KL Express. Dari shulter bus disediakan mobil jemputan bagi yang membeli tiket tujuan hotel di daerah Kuala Lumpur. Pukul 16.00 saya tiba di hotel dengan selamat. Setelah turun di shulter bus sebuah mobil 3/4 sudah siap menunggu untuk mengantarkan sampai ke hotel. Pada hari itu saya adalah penumpang tunggal dalam mobil tersebut. Beruntung, saya bertemu driver yang sopan dan sangat bersahabat.
Hari pertama
Setelah satu jam beristirahat dan sholat saya memutuskan untuk tidak membuang waktu dan memulai penjelajahan saya. Perjalanan pertama dimulai. Meski driver mobil yang mengantar saya menawarkan untuk menemani berkeliling kota waktu itu, tapi karena belum terlalu kenal saya menolak secara halus tawaran tersebut dan driver tersebut tidak tersinggung. Sebelum meninggalkan hotel untuk berjelajah, terlebih dahulu saya bertanya ke customer service hotel mengenai akomodasi menuju Twin Tower. Menurut saya jawaban yang mereka berikan tidak terlalu solutif karena mereka menyarankan untuk naik taxi sedangkan saya ingin menikmati mass transportation. Berbekal tanya beberapa orang yang ditemui dijalan akhirnya saya pun sampai di KL Twin Tower ^_^.  Gak punya tongsis, tripot, maupun teman, bukan alasan untuk tidak bisa berfoto2 cantik.  Banyak pangunjung yang sangat bersahabat untuk sekedar dimintai tolong untuk mengambil gambar buat kita. Pengalaman seru saya waktu itu seorang pengunjung dari India yang saya mintai bantuan malah minta foto bareng (berasa jadi artis hehe).
Puas di Twin Tower saya berencana untuk pergi ke KL Tower. Lagi-lagi saya hanya berbekal tanya ke beberapa orang yang saya temui di jalan. Kali ini saya kurang beruntung. Setelah naik go-kl (karena hari pertama dan baru pertama naik go-kl saya belum paham mengenai rute perjalanan. Asal naik dan ternyata saya malah nyasar ke  Pasar Seni. Tidak termasuk dalam daftar destinasi tujuan, tapi saya tidak menyesal nyasar ke tempat ini. Selesai menunaikan sholat magrib di Mushola Pasar Seni, perjalanan dilanjutkan berkeliling Pasar Seni. Selain barang belanjaan kita juga akan disuguhi pertunjukan tari-tarian daerah. Sebelum pulang kembali ke hotel, saya menyempatkan diri berburu oleh-oleh khas Malaysia di pasar Seni.
Perjalanan pulang ke hotel dimulai. Kembali ke terminal bus terdekat dari pasar Seni yang jaraknya hanya sekitar 5 meter. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat bus pun sudah mulai jarang. Saya bertanya ke salah satu petugas yang belakangan saya baru tahu kalau dia adalah sopir bus Go-KL line purple. Saya bertanya transportasi yang bisa mengantar saya ke lokasi hotel. Awalnya petugas menjawab dengan nada kurang bersahabat dan sempat memberikan informasi kalau bus ke arah hotel saya sudah tidak ada dan saya harus naik taxi sebagai alternatif terakhir. Melihat sikap saya yang ramah dan sopan, petugaspun petugas berubah ramah. Tak lama, datang teman petugas yang ternyata masih keturunan Indonesia yang sudah lahir di Malaysia dan lebih memilih untuk menjadi warga Malaysia. Bahkan sempat petugas yang tadinya rada galak bilang ke temannya "anak ini peramah". Bus yang dia bawa saatnya berangkat. Dengan baik hati petugas tadi menawarkan saya untuk ikut busnya, bahkan dia sengaja menyetop penumpang lain untuk mempersilakan saya masuk ke dalam bus. Tiba di bukit bintang saya harus berganti bus go-kl red lina, lagi-lagi bapak yang baik itu berdiri dari tempat dia mengendalikan kemudi kemudian memberitahukan bus mana yang harus saya naiki untuk bisa kembali ke hotel. What a wonderful experience ^_^.
Perjalanan hari pertama berakhir menyenangkan
Hari kedua
Pagi itu rencananya saya ingin menunjungi Legoland di Johor Bahru, namun rencana berubah setelah bertanya ke customus service hotel moda transportasi ke Johor Bharu lumayan sulit dan jarak sangat jauh. Perjanlanan akhirnya dilanjutkan ke Genting. Perjalanan ditempuh dengan rapid –KL ke KL sentral dilanjutkan dengan bus ke Genting. Setibanya di Genting gak sengaja bertemu dengan single backpack dari Indonesia dan kami memutuskan untung menghabiskan hari bersama menjelajah Malaysia. Dari genting perjalanan dilanjutkan ke batu cave menggunakan KL-1. Selesai dari batu genting kami menuju twin tower dengan kereta dan menjelang isya atau sekitar pukul 8 malam kami berjalan kaki menuju KL- Tower. Sampai di KL- Tower karena sudah cukup malam kami tidak bias menikmati hiburan yang ditawarkan di sana. Karena waktu sudah cukup larut (sekitar pukul 22.30) kami berpisah menuju penginapan masing-masing dengan go-KL.
Sekitar pukul 23.00 saya tiba di kawasan hotel dan sebelum mengakhiri perjalanan hari itu saya menyempatkan diri untuk wisata kuliner di Nasi Kandar Sayyeed. Tempatnya cukup cozy. Selain adanya suguhan musik dari pengamen, Dari tempat tersebut kita bisa melihat langsung KL-Tower.
Perjalanan hari kedua berakhir mengesankan J.
Hari ketiga
Hari ini merupakan hari terakhir menikmati Kuala Lumpur. Tiket pesawat tertulis pukul 16.00 waktu setempat.  Tak mau menyianyiakan waktu, saya memutuskan untuk mengunjungi Kuala Lumpur Art Galeri. Seperti berjodoh ditempat tersebut saya bertemu kembali teman Indonesia. Sayangnya pagi itu dia harus cepat-cepat ke Bandara karena dia mengambil penerbangan pukul 10.00. Selesai menikmati Museum Art Galery perjalanan dilanjutkan ke Masjid Jamek dan kembali ke Hotel untuk check out.
Sayang melewatkan sisa waktu yang dipunya, sambil menunggu jam keberangkatan saya melanjutkan perjalanan ke kawasan Putrajaya. Pada perjalanan terakhir saya hampir ketinggalan pesawat. Hal tersebut dikarenakan saya kurang  memperhatikan jadwal dan rute bus ditambah bus yang saya tumpangi yang seharusnya sudah kembali ke terminal awal harus kembali memutari komplek dikarenakan sopir lupa menurunkan penumpang di tempat yang sudah di request.
Tiba di bandara saya terlambat 15 menit dari batas akhir check in (tidak bisa check in online karena tidak menemukan koneksi internet). Setelah membujuk petugas Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk check in di last call passanger.
Alhamdulillah sampai di Jakarta kembali setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 30 menit dengan KLM (pramugaranya ganteng-ganteng :D).
Single backpacker-an pertama ke negri orang sukses J. Ketagihan pengen back pack-an lagi ^_^.